Kategori
Blog

Urgensi Akuntansi Forensik

Profesi akuntansi forensik di Indonesia semakin berkembang semenjak krisis moneter 1997. Perkembangan ini seiring meningkatnya praktik fraud (kecurangan) dalam sektor publik. Perlu diketahui bahwa akuntansi forensik dan audit forensik memilik makna yang sama. Meski begitu, audit forensik tentu berbeda dengan audit umum. Dikarenakan audit umum harus memberikan opini audit, sedangkan audit forensik tidak ditujukan untuk memberikan opini audit. Dengan demikian, akuntansi forensik merupakan profesi baru dalam audit kecurangan. Sehingga, akuntan forensik lahir dari tanggung jawab fraud auditor untuk melakukan investigasi terhadap hal-hal di sekitar masalah keuangan yang mengarah kepada konsekuensi hukum (Karyono, 2013).

Beberapa pakar telah memperkuat teori akuntansi forensik seperti Larry Crumvley dan Stevenson (2009) yang menyatakan fraud auditor adalah seorang akuntan yang terampil dan profesional dalam mengaudit umumnya akan terlibat dalam kegiatan tentang penemuan, dokumentasi dan pengecahan fraud. Dalam hal ini, akuntan forensik merupakan seorang akuntan yang dapat terlibat dalam fraud audit dan mungkin fraud auditor, tetapi dia dapat menggunakan jasa profesional lainnya seperti jasa konsultasi dan ahli hukum dalam keterlibatan yang lebih luas. Lebih lanjut, seorang akuntan forensik selain memiliki keterampilan akuntansi, juga membutuhkan pengetahuan mengenai ilmu hukum, psikologi, komunikasi hingga tekonologi informasi yang bisa digunakan untuk membantu analisis investigasi.

Hal itu dilandasi dari fungsi dasarnya yang bertugas untuk memberikan alat bukti terutama dimuka pengadilan terhadap berbagai tindak kejahatan. Meski begitu dalam konteks audit forensik terlebih didahului oleh audit investigasi terhadap sebuah tindak kriminal hingga kemudian menjadi saksi ahli di pengadilan. Dalam prosesnya audit forensik bersifat proaktif dan reaktif. Proaktif artinya digunakan untuk mendeteksi kemungkinan-kemungkinan resiko terjadinya fraud atau kecurangan. Sedangkan reaktif, artinya audit yang dilakukan ketika ada indikasi (bukti) awal terjadinya fraud. Sehingga kemudian audit khusus atau penunjukan khusus ini akan menghasilkan beberapa sinyal ketidakberesan.

Dengan demikian proses dari kegiatan audit forensik yakni dimulai dari pengumpulan, verifikasi, pengolahan, analisi dan pelaporan data untuk memperoleh atas fakta dan bukti konkret lainnya dalam kasus kecurangan terutama keuangan. Dengan begitu titik fokus pada akuntansi forensik lebih kepada pendeteksian, analisis dan komunikasi bukti yang mendasari peristiwa keuangan dan pelaporan (Smith & Crumbley, 2014). Akhirnya, dengan semakin meningkatnya praktik fraud (kecurangan) baik di ranah bisnis maupun politik, dibutuhkan sinergisitas antar stakeholder untuk dapat menyamakan persepsi bahwa peran akuntansi forensik dapat berkontribusi menekan terjadinya praktik fraud (kecurangan) di semua sektor. Urgensi akuntansi forensik ini dapat dimulai dengan membangun forum kajian dan penelitian yang mendalam sehingga semakin memperkuat landasan teori dari akuntansi forensik kedepan.

Bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *